Polda Bali Periksa Keluarga Korban Penyegelan oleh Oknum TNI di Denpasar

dewi umaryati ยท Sabtu, 10 Oktober 2020 - 11:05 WITA
Polda Bali Periksa Keluarga Korban Penyegelan oleh Oknum TNI di Denpasar
Polda Bali memeriksa keluarga korban penyegelan rumah oleh oknum anggota Kodam IX/Udayana, Jumat (9/10/2020).

DENPASAR, iNews.id - Penyidik Polda Bali menindaklanjuti pengaduan masyarakat (dumas) dari Hendra, warga Jalan Batas Dukuh Sari Gang Merak, Sesetan, Denpasar, yang rumahnya disegel oknum TNI. Selain Hendra, anggota keluarga lain juga diperiksa yakni, kedua orang tua serta anak Hendra yang saat kejadian berada di dalam rumah.

Selama diperiksa terpisah kurang lebih 4 jam, mereka didampingi tim pengacara dari Yayasan Bantuan Hukum Bangli Justice yang diketuai Gede Bina.

Hendra mendapat 15 pertanyaan, di antaranya seputar surat pemberitahuan pemasangan papan pengumuman yang dikirimkan Muhaji melalui kantor pengacara Togar Situmorang.

"Materi pemeriksaan penyidik terkait dumas yang diadukan Pak Hendra, atas dugaan perampasan kebebasan orang di rumahnya sendiri," kata Kuasa Hukum Hendra, Ketut Bakuh, Jumat (9/10/2020).

Menurut Bakuh, pertanyaan yang diajukan masih tentang peristiwa yang terjadi pada Jumat (2/10/2020) lalu, terkait penggembokan atau penyegelan menggunakan papan pengumuman.

"Terkait nanti siapa-siapa saja yang berperan dalam peristiwa ini, nantinya akan didalami penyidik lebih lanjut," katanya.

Penyidik juga akan mendalami peristiwa ini secara khusus meminta bukti pendukung yang dimiliki Hendra sebagai pengadu.

"Untuk bukti pendukung seperti surat dan alat bukti rekaman, penyidik akan memintanya khusus ketika proses lebih lanjut," kata Bakuh.

Sementara tim kuasa hukum keluarga Hendra yang lain, Gede Bina menyampaikan apa yang dialami korban ini memang nyata adanya.

"Yang perlu ditekankan di sini bahwa ini kan menyangkut peristiwa hukum. Ada hak klien kami yang dibatasi," katanya.

Menurutnya, semua orang sama kedudukannya di mata hukum dan tidak ada yang kebal hukum.

"Seorang pengacara ada hak imunitas ketika bekerja berdasarkan iktikad baik. Kalau di luar itu yang berkaitan pidana, polisi yang akan menjelaskan," ujarnya.

Sebelumnya, Muhaji yang mengaku sebagai pemilik tanah yang ditempati Hendra memasang pelang pengumuman hingga menutup akses pintu keluar rumah.

Akibatnya, kedua orang tua dan anak Hendra yang berada di dalam rumah tidak bisa keluar. Begitu juga sebaliknya. Hendra bersama istri yang tengah hamil empat bulan serta anak perempuannya di luar, tidak dapat masuk ke rumah.

Setelah 7 jam lamanya pelang terpasang, atas perintah Direktur Reskrim Umum Polda Bali Kombes Dodi Rahmawan yang datang ke TKP, memerintahkan untuk membongkar papan pengumuman.

Sementara itu, kuasa hukum Muhaji, yakni Togar Situmorang membantah telah terjadi penyekapan. Dia mengklaim penyegelan itu dilakukan karena kliennya sebagai pemilik tanah, sesuai bukti kepemilikan sertifikat hak milik.


Editor : Dewi Umaryati