Mengenal Tradisi Mepasah, Pemakaman Jenazah di Alam Terbuka di Bali

Nani Suherni · Minggu, 18 September 2022 - 15:30:00 WITA
Mengenal Tradisi Mepasah, Pemakaman Jenazah di Alam Terbuka di Bali
Tradisi Mepasah di Desa Trunyan, Bali (Foto: Wacana)

BANGLI, iNewsid - Tradisi Mepasah merupakan pemakaman dengan membiarkan jenazah berada di alam terbuka. Uniknya, tradisi ini hanya bisa ditemukan di Desa Trunyan. Terletak di kawasan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali

Dilansir dari portal Budaya Indonesia disebutkan jika, Desa Trunyan jadi salah satu wilayah yang dihuni Suku Bali Aga atau Bali Mula yang masih teguh memegang kepercayaan leluhurnya.

Diketahui, Bali Aga atau Bali Mula merupakan suku bangsa yang pertama mendiami Pulau Bali.

Jika biasanya kita mendengar ucapara Ngaben dalam menguburan di Bali maka berbeda dengan tradisi Mepasah. 

Jenazah warga yang meninggal akan diletakkan di bawah pohon. Kepercayan setempat menyebutkan dalam satu pohon hanya boleh menyimpan 11 jenazah. Lalu bagaimana jika ada jenazah baru? jenazah yang lama biasa akan dipindahkan terlebih dahulu.

Jenazah tersebut juga diperlakukan khusus. Jasadnya hanya bisa dimandikan dengan air hujan. Kemudian jenazah diletakkan di tanah. Namun untuk menyiasati agar jenazah tidak bergeser, maka diberi lubah 1- hingga 20 sentimter (cm).

Untuk bagian wajah, biasanya akan dibalut dengan kain. Jika kuburan umum akan ditandai dengan nisan, maka kuburan ini ditutup dengan bambu yang dianyam berbentuk prisma atau disebut ancak saji. 

Jika kalian bertanya apakan jenazah akan mengeluarkan bau busuk, maka jawabannya tidak. Pohon Taru Menyan, lokasi tempat jenazah itu diletakkan rupanya mengeluarkan harum.

View this post on Instagram

A post shared by Puspita Nagari (@puspita_nagari_)

Editor : Nani Suherni

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: