Jangan Renovasi Dulu, Coba Evaluasi Desain Interior Anda!
DENPASAR, iNews.id - Banyak pemilik rumah langsung memikirkan perombakan struktural berskala besar ketika merasa hunian mereka terasa sempit, sumpek, atau membosankan. Membongkar dinding atau menambah luas bangunan sering kali dianggap sebagai satu-satunya jalan keluar. Padahal, keputusan yang tergesa-gesa ini tidak hanya menguras anggaran yang signifikan, tetapi juga menyita waktu dan energi.
Sering kali, akar masalahnya bukanlah pada keterbatasan meter persegi fisik bangunan, melainkan pada tata letak dan pengorganisasian ruang yang kurang optimal. Di sinilah penerapan desain interior yang cerdas mengambil peran krusial.
Melalui pendekatan visual dan fungsional yang tepat, sebuah ruangan dapat diubah secara drastis untuk memberikan kenyamanan maksimal, membuat langkah renovasi fisik menjadi opsi terakhir yang mungkin tidak lagi diperlukan.
Mengevaluasi kembali konsep desain interior pada ruangan tersebut adalah langkah pertama yang paling logis dan ekonomis sebelum memutuskan untuk memanggil kontraktor.
Alasan Mengubah Tata Letak Lebih Efisien Dibandingkan Membongkar Dinding
Dalam konteks pasar properti di Indonesia, khususnya di kota-kota besar di mana harga material bangunan dan jasa tukang terus mengalami eskalasi, efisiensi anggaran adalah prioritas utama.
Data dari berbagai laporan industri konstruksi domestik menunjukkan bahwa biaya renovasi berat bisa memakan dana hingga puluhan juta rupiah hanya untuk satu area kecil. Sebaliknya, optimalisasi ruang melalui pembaruan desain interior menawarkan solusi yang jauh lebih rasional.
Dengan mempertahankan struktur asli, pemilik properti menghindari risiko kerusakan tak terduga pada fondasi atau sistem kelistrikan bangunan. Pendekatan ini lebih berfokus pada rekayasa visual yang memaksimalkan potensi ruangan yang sudah ada.
Ketika struktur ruangan tetap dipertahankan namun suasananya berhasil diubah berkat trik desain interior yang tepat, langkah selanjutnya adalah memahami komponen apa saja yang membentuk perubahan visual tersebut.
Editor: Anindita Trinoviana