BMKG: Bali Berpotensi Mengalami Gempa Bumi Berulang di Tempat yang Sama

Antara ยท Jumat, 22 Oktober 2021 - 22:49:00 WITA
BMKG: Bali Berpotensi Mengalami Gempa Bumi Berulang di Tempat yang Sama
Gempa bumi di Bali menyebabkan ribuan bangunan rusak dan menelan 3 korban jiwa pada Sabtu (16/10/2021). (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut Provinsi Bali bisa mengalami bahaya gempa bumi serupa secara berulang-ulang. Alasannya berdasarkan catatan, gempa serupa terjadi di tempat yang sama.

“Bali menghadapi bahaya yang serupa dan bisa berulang-ulang karena kalau kita buka catatan sejarah gempa di Bali yang dahsyat 22 November 1815 itu, lereng-lereng perbukitan di Bali sudah mengalami longsor dan menelan korban jiwa,” ujar Koordinator Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono dalam Konferensi Pers Update Situasi dan Penanganan Gempa Karangasem Provinsi Bali yang diikuti secara daring di Jakarta, Jumat (22/10/2021).

Daryono menjelaskan, gempa dahsyat yang terjadi pada tahun 1815 menyebabkan rekahan tanah di Bali telah tersebar di banyak tempat. Bahkan ada yang sampai memotong Danau Tamblingan dan menyebabkan banjir besar.

Kemudian dia menyebutkan gempa bumi di Bali yang terjadi pada 21 Januari 1917, sekitar 80 persen dari jumlah korban disebabkan longsoran. Dengan jumlah korban jiwa sebanyak lebih dari 1.500 orang.

Selanjutnya selain likuefaksi (pencairan tanah), pada Gempa Seririt yang terjadi 14 Juli 1976 juga menyebabkan banyak rekahan tanah dan longsoran tebing bermunculan di Pupuan, Tabanan, Bukit Geger juga Buleleng.

“Kalau gempa kemarin di barat, ini di timur dan korbannya 559 orang. Ini bukti collateral hazard (dampak ikutan) ini akan terus terjadi kalau tidak dilakukan upaya mitigasi terkait dengan dampak ini,” katanya.

Melihat gempa bumi yang kuat dan dampak ikutan terjadi secara berulang di dekat Gunung Agung dan Gunung Batur, dia menyarankan pemerintah untuk mengantisipasi dan melakukan mitigasi pada masyarakat yang tinggal di daerah tersebut ke depannya.

“Ini yang harus diantisipasi ke depan sebagai upaya mitigasi masyarakat yang tinggal di pegunungan tengah Bali. Tidak saja membangun bangunan yang tahan gempa, tetapi juga harus memperhatikan biologi tata lingkungan berbasis risiko gempa dalam membangun,” ucapnya.

Koordinator Mitigasi Gerakan Tanah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Agus Budianto menyarankan wilayah terdampak yang terbuka dan berada di alur lembah, sebaiknya dipindahkan menjauhi alur lembah dan tebing.

“Karena yang terjadi longsor ini, dia sudah membuka jalur jalan di atasnya dan akan terus berulang, berulang dan berulang. Jadi hindarkan di wilayah kombinasi alur air dan dampak gempa itu tadi,” kata Agus.

Editor : Donald Karouw

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: