Jembatan Darurat Rusak Diterjang Lahar Gunung Agung, Warga Bukit Galah Karangasem Terisolir

Dewi Umaryati ยท Senin, 19 Juli 2021 - 14:21:00 WITA
Jembatan Darurat Rusak Diterjang Lahar Gunung Agung, Warga Bukit Galah Karangasem Terisolir
Jembatan darurat yang kerap dilalui warga Desa Adat Bukit Galah, Banjar Dinas Sogra, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Karangasem rawan roboh

KARANGASEM, iNews.id – Desa Adat Bukit Galah, Banjar Dinas Sogra, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Karangasem yang berjarak terdekat dengan Gunung Agung ini menjadi desa yang terpencil dan terisolir. Minimnya akses jalur evakuasi jika terjadi erupsi, membuat warga yang berada di jarak kurang dari lima kilometer dari puncak gunung ini kerap dilanda kecemasan. 

Bahkan saat terjadi erupsi pada tahun 2017 silam, warga desa ini menjadi yang paling lama mengungsi. Hingga akhir tahun 2018, seluruh warga baru dapat kembali ke rumah masing-masing. 

Akses jembatan yang kerap digunakan warga untuk melintas sebagai jalur alternatif rusak akibat terjangan banjir bandang hingga lahar dingin

Banjir lahar dingin dari puncak Gunung Agung yang membahayakan warga Desa Adat Bukit Galah, Banjar Dinas Sogra, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Karangasem untuk melintas karena akses jembatan rusak
Banjir lahar dingin dari puncak Gunung Agung yang membahayakan warga Desa Adat Bukit Galah, Banjar Dinas Sogra, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Karangasem untuk melintas karena akses jembatan rusak

Menurut Bendesa Adat Bukit Galah, I Putu Suyasa, sejak akses jembatan yang menghubungkan ke Kecamatan Bebandem rusak, untuk menuju ke Kota Karangasem harus memutar melalui Kecamatan Selat yang jaraknya mencapai 45 kilometer. 

“Kalau mau ke Bebandem, biasanya warga keluar kampung bawa motor. Lalu dilanjutkan berjalan kaki, motornya ditinggal,” kata Suyasa. 

Berbatasan langsung dengan hutan Gunung Agung, desa yang berpenghuni sekitar 38 Kepala Keluarga (KK) ini menjadi desa yang terisolir. 

Aksesnya terbatas. Bahkan dari Desa Adat Bukit Galah menuju Kecamatan Bebandem sempat terhubung dengan jembatan semi permanen, dapat dilalui mobil berukuran kecil dengan maksimal bobot hingga lima ton. 

“Sebenarnya dulu kami ada jembatan semi permanen, tetapi rusak karena di tahun 2017 diterjang lahar dingin akibat erupsi Gunung Agung,” ujarnya. 

Editor : Dewi Umaryati

Halaman : 1 2