Gagal Tagih Utang, Debt Collector di Bali Malah Diancam Sajam

Pande Wismaya ยท Selasa, 30 Juni 2020 - 10:02 WIB
Gagal Tagih Utang, Debt Collector di Bali Malah Diancam Sajam
Polres Buleleng menangkap tersangka pengancam dengan senjata tajam kepada debt collector, Senin (29/6/2020). (iNews.id/Pande Wismaya)

BULELENG, iNews.id - Nasib tak beruntung dialami Gede Swasta, debt collector yang hendak menagih cicilan pembayaran sepeda motor. Bukannya mendapat bayaran, dia malah nyaris terluka lantaran diancam dengan senjata tajam oleh pemilik motor.

Peristiwa itu terjadi di Desa Penglatan, Kabupaten Buleleng, Bali, Rabu (24/6/2020). Korban saat itu datang ke rumah tersangka inisial GSU yang menunggak pembayaran cicilan sepeda motornya.

Namun, tersangka geram karena merasa tak terima didatangi debt collector. Sempat terjadi keributan di rumah tersangka. Tak berapa lama, tersangka masuk ke dalam rumah dan keluar kembali membawa sebilah pedang. Pedang tersebut diarahkan kepada korban dengan nada ancaman.

Korban yang ketakukan memilih lari dari rumah tersangka. Bahkan tak sempat menaiki sepeda motornya yang tertinggal di rumah tersangka. Korban kemudian melaporkan peristiwa tersebut ke Mapolres Buleleng, hingga polisi bergerak ke rumah tersangka.

Polisi mengamankan tersangka di rumahnya. Dari rumah tersangka yang merupakan mantan anggota salah satu ormas besar di Bali ini, polisi mendapatkan puluhan senjata tajam berbagai jenis dan dua buah senjata api yang salah satunya senjata rakitan.

"Polisi menemukan 2 senapan angin, 1 senjata rakitan jenis pistol, 3 pedang berukuran panjang dan 2 sangkur di mana keseluruhan senjata tersebut tanpa dilengkapi izin," kata Kasat Reskrim Polres Buleleng, AKP Vicky Tri Haryanto di Mapolres Buleleng, Senin (29/6/2020).

Vicky mengatakan, tersangka diamankan selain karena kasus pengancaman dan kepemilikan senjata api tanpa izin juga karena laporan dari masyarakat setempat kalau tersangka kerap membuat masalah di lingkungan tempat tinggal.

Sementara itu, tersangka mengakui perbuatannya itu dilakukan lantaran sedang kalut karena tiba-tiba ditagih cicilan motor. Dia mengaku sebelumnya telah membayar cicilan motor sebesar Rp300.000 per bulan.

Atas perbuatannya tersangka dijerat pasal berlapis yakni kepemilikan senjata api tanpa izin dan pengancaman. "Pelaku dijerat Pasal 368 ayat 1 KUHP terkait pengancaman, dan Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1951 tentang kepemilikan senjata api dengan ancaman maskimal hingga 10 tahun," katanya.


Editor : Reza Yunanto