Dinilai Memberatkan, Warga Bali Tolak Rapid Test Covid-19 dan Swab

Sindonews, Miftachul Chusna ยท Minggu, 26 Juli 2020 - 23:24 WIB
Dinilai Memberatkan, Warga Bali Tolak Rapid Test Covid-19 dan Swab
Warga Bali menolak kebijakan rapid test dan swab Covid-19 sebagai syarat administrasi di masa new normal karena dinilai memberatkan. (Foto: SINDOnews)

DENPASAR, iNews.id - Ratusan orang yang tergabung dalam Masyarakat Nusantara Sehat (Manusa) berunjuk rasa menolak kebijakan rapid test dan swab Covid-19 sebagai syarat administrasi di masa new normal, Minggu (26/7/2020). Mereka menilai kebijakan yang ditetapkan Pemprov Bali bagi pelaku usaha maupun pelaku perjalanan itu sangat memberatkan di tengah wabah corona.

Dalam aksi yang berlangsung di Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar itu, pengunjuk rasa mengusung sejumlah poster bertuliskan "Tolak Rapid Tes dan Swab Tes untuk Syarat Administrasi", "Stop Bisnis Rapid Tes", "Rapid Tes Tidak Efektif", "Katakan Tidak untuk Rapid Tes" dan lainnya.

Koordinator pengunjuk rasa Made Krisna Dinata dalam orasinya mengatakan, kebijakan rapid tes dan tes swab tidak tepat digunakan sebagai syarat administrasi bagi pelaku perjalanan dan pelaku usaha terkait pemberlakuan new normal di Bali.

Kebijakan itu dinilai tidak efektif karena tidak menjamin seseorang bebas Covid-19 dan malah memberatkan di tengah situasi ekonomi yang sulit akibat pandemi Covid-19. "Kebijakan ini berpeluang dipakai kedok bisnis kesehatan," kata Krisna.

Kewajiban rapid test dan tes swab dituangkan dalam Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 3355 tertanggal 5 Juli 2020. Kebijakan itu mengharuskan pengelola hotel, vila, restoran, destinasi wisata, biro perjalanan dan pelaku perjalanan melakukan rapid tes dan tes swab sebagai syarat administrasi untuk sertifikasi new normal.

Bali sudah memberlakukan tahapan tatanan new normal sejak 9 Juli 2020 yang ditandai dengan dibukanya pariwisata untuk warga lokal. Tahapan selanjutnya akan dibuka 31 Juli untuk wisawatan nusantara dan untuk wisawatan asing pada 11 September mendatang.


Editor : Kastolani Marzuki