10 Petugas Coklit di Bali Tolak Rapid Test Berdalih Alami Tekanan Psikologis

Bagus Alit ยท Jumat, 24 Juli 2020 - 08:57 WIB
10 Petugas Coklit di Bali Tolak Rapid Test Berdalih Alami Tekanan Psikologis
Ratusan petugas coklit KPU Kota Denpasar mengikuti rapid test di RSUD Wangaya, Senin (6/7/2020). (iNews.id/Aris Wiyanto)

BADUNG, iNews.id - Rapid test untuk petugas pemutakhiran data pemilih atau pencocokan dan penelitian (coklit) di Kabupaten Badung, Bali tak berjalan mulus. Sebanyak 10 petugas menolak rapid test dengan alasan mengalami tekanan psikologis.

"Ada pemikiran mereka merasa ada tekanan psikologis," kata Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Badung, I Wayan Semara Cipta, Kamis (23/7/2020).

Sepuluh orang petugas yang belum bersedia menjalani rapid test itu berada di Legian. Mereka untuk sementara tidak dibolehkan menjalankan tugasnya sebelum mengikuti rapid test.

Agar tidak mengganggu prosek tahapan pemilihan, KPU Badung mengganti sepuluh orang tersebut dengan Petugas Pemungutan Suara (PPS) dari wilayah setempat.

"Karena ini komitmen kami setiap petugas yang menjalankan tugasnya harus menikuti rapid test untuk memberikan rasa aman saat turun ke masyarakat," ujarnya.

Terkai penolaka ini, Ketua KPU Bali I Dewa Agung Gede Lidartawan mengatakan, rapid test merupakan komitmen KPU untuk menjaga petugas dan juga masyarakat dari penularan Covid-19. Bila ada petugas PPDP yang menolak rapid test, maka konsekuensinya akan diganti.

"Jadi baik itu PPK, PPS ataupun PPDP yang tidak mau (rapid test) pasti akan kita ganti," tuturnya.

Selain penolakan rapid test oleh petugas PPDP, proses coklit di salah satu desa di Kabupaten Jembrana juga tertunda. Menurut informasi hal itu terjadi lantaran ada warga yan gpositif Covid-19 sehingga membuat koordinasi belum beres.


Editor : Reza Yunanto