4 Daerah di Bali Masuk 10 Besar Kasus DBD Tertinggi, Buleleng Posisi Pertama

Binti Mufarida ยท Selasa, 15 September 2020 - 18:05 WITA
4 Daerah di Bali Masuk 10 Besar Kasus DBD Tertinggi, Buleleng Posisi Pertama
Buleleng tercatat sebagai daerah dengan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) tertinggi di Indonesia per September 2020.

JAKARTA, iNews.id - Kabupaten Buleleng, Bali tercatat sebagai daerah kabupaten/kota dengan kasus demam berdarah (DBD) tertinggi di Indonesia. Tiga daerah lain di Bali yakni Badung, Denpasar, dan Gianyar juga masuk dalam 10 besar daerah dengan kasus DBD tertinggi.

"Kalau di kabupaten kota ini tertinggi ada di Bali ya," kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, Kementerian Kesehatan (Kemkes), Didik Budijanto dalam webinar di Jakarta, Selasa (15/9/2020).

Dia mengatakan, berdasarkan data Kemkes hingga September 2020, total kasus DBD se-Indonesia mencapai 84.734 kasus. Buleleng menempati posisi teratas dengan 2,677 kasus, disusul Bandung, Jawa Barat dengan 2.138 kasus, dan Badung dengan 2.138 kasus. Menurutnya ada beberapa faktor risiko yang menimbulkan DBD, di antaranya faktor virus dan keadaan lingkungan.

“Kalau kita lihat terjadinya DBD ini ada beberapa penyebab, yang pertama dari virus dengue-nya sendiri yaitu termasuk ke dalam arthropod borne virus, ini yang harus kita antisipasi. Kemudian juga dari nyamuk, jadi nyamuk dari genus virus yang berukuran cukup kecil 55 mm,” ucapnya.

Selain itu, ada dari sisi nyamuk jenis aedes aegypti yang membawa virus dengue. Serta dari faktor lingkungan yang mempengaruhi siklus hidup nyamuk aedes aegypti ini.

“Kemudian dari host-nya atau manusianya, bagaimana sirkulasinya, bagaimana siklus hidupnya dari penjamu host-nya ini ketika terjadi infeksi pada seseorang. Dan yang berkaitan dengan hal ini adalah faktor risiko lingkungan. Karena banyak sekali tadah hujan di daerah kita,” ujarnya.

Didik mengatakan populasi nyamuk aedes aegypti penyebab DBD ini meningkat pada saat musim hujan. Hal itu perlu menjadi perhatian masyarakat agar membersihkan lingkungannya

“Siklus hidup DBD terjadi karena hujan. Jadi ketika musim penghujan maka terjadi kasus yang tinggi namun ketika kemarau ini malah populasi nyamuknya rendah. Tapi begitu hujan lagi populasinya naik lagi. Nah ini karena lingkungan kita berpotensi untuk bisa menjadi sarang untuk bertelur menjadi jentik-jentik nyamuk," katanya.

Menurutnya upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah kasus DBD ini terutama dengan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan 3M Plus. Upaya pemberantsan dinilai bisa optimal apalagi banyak masyarakat yang mulai bekerja dari rumah karena pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

“Upaya-upaya untuk bisa mengendalikan ketika terjadi pergantian musim dari kemarau ke penghujan. Ini yang perlu diantisipasi dengan kegiatan-kegiatan PSN dan 3M Plus, ini yang bisa kita lakukan,” ucap Didik.

Berikut data kasus DBD di 10 kabupaten kota tertinggi:

1. Buleleng, Bali: 2.677 kasus,

2. Bandung, Jawa Barat: 2.138 kasus,

3. Badung, Bali: 2.138 kasus,

4. Sikka, NTT: 1.736 kasus,

5. Jakarta Timur: 1.452 kasus,

6. Lombok Barat, NTB: 1.421 kasus,

7. Denpasar, Bali: 1.266 kasus,

8. Malang, Jawa Timur: 1.265 kasus,

9. Gianyar, Bali: 1.244 kasus,

10. Ciamis, Jawa Barat: 1.216 kasus.


Editor : Reza Yunanto