Sopir Taksi Online di Bali Nekat Nyambi Edarkan Sabu

Antara ยท Senin, 02 Maret 2020 - 17:54 WIB
Sopir Taksi Online di Bali Nekat Nyambi Edarkan Sabu
Polresta Denpasar menangkap sopir taksi online yang nyambi edarkan sabu, Senin (2/3/2020). (Foto: Antara)

DENPASAR, iNews.id – Petugas Polresta Denpasar menangkap seorang sopir taksi online bernama M. Toriq (31) yang diduga mengedarkan narkotika jenis sabu di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, Bali. Tersangka nekat menjadi pengedar sabu karena desakan ekonomi.

"Tersangka mau jadi kurir karena dorongan faktor ekonomi," kata Kapolresta Denpasar, Kombes Pol. Ruddi Setiawan saat konferensi pers di Polresta Denpasar, Senin (2/3/2020).

Ruddi menjelaskan, dari pengakuan tersangka terungkap bahwa perbuatan menjadi pengedar sabu ini hanya dilakukan sambilan saja, jika ada permintaan pesanan.

“Kadang seminggu sekali, kadang sebulan, dan narkotika tersebut diperolehnya dari Bali," ujarnya.

Kepada polisi, tersangka mengaku mendapat upah sebesar Rp500 ribu sampai Rp1 juta untuk sekali mengambil dan mengantar pesanan sabu. Yang menjadi sasaran peredaran sabu tersangka pun hanya warga lokal.

"Sabu ini untuk dikonsumsi jaringan lokal, bukan warga asing dan jumlah yang tersangka ini edarkan juga tergantung permintaan," ujar Ruddi.

Ruddi menuturkan, tersangka biasanya menyimpan sabu dalam dompet, tas dan toples di kamar kosnya. Sabu tersebut diperolehnya dari seseorang bernama Jaky di Denpasar.

"Awal informasi dari masyarakat kalau di Jalan Karangsari Kedonganan Kuta Badung sering dijadikan transaksi Narkotika. Kemudian pada 27 Februari 2020, pukul 16.30 wita tersangka ditangkap ketika berada di depan kos tersangka," katanya.

Saat dilakukan penggeledahan di kamar kos tersangka petugas menemukan barang bukti berupa 11 paket sabu dengan berat bersih 690 gram dalam dompet, tas kompek dan toples yang berada di kos-kosan tersangka.

"Tersangka mengakui barang tersebut adalah miliknya yang disuruh oleh seseorang laki-laki yang biasa dipanggil Jaky, tapi tersangka tidak mengetahui keberadaannya, " katanya.

Atas perbuatannya, tersangka disangkakan Pasal 112 ayat (2) UU RI No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika

“Ancaman hukuman penjara minimal lima tahun, maksimal 20 tahun dan denda Rp800 juta sampai Rp8 miliar,” katanya.


Editor : Reza Yunanto