Pelajar SMP di Pulau Dewata Adu Kemampuan dalam Lomba Mengetik Aksara Bali di Komputer

Antara ยท Minggu, 23 Februari 2020 - 05:30 WIB
Pelajar SMP di Pulau Dewata Adu Kemampuan dalam Lomba Mengetik Aksara Bali di Komputer
Para siswa terlihat serius mengetik aksara Bali dengan menggunakan komputer dalam lomba serangkaian Bulan Bahasa Bali 2020 di Taman Budaya, Denpasar, Sabtu (22/2/2020). (Foto: Antara)

DENPASAR, iNews.id – Para pelajar SMP dari berbagai daerah di Pulau Dewata beradu kemampuan dalam lomba mengetik aksara Bali dengan menggunakan komputer. Acara yang digelar di Taman Budaya, Denpasar, Sabtu (22/2/2020) ini merupakan rangkaian Bulan Bahasa Bali 2020.

Salah satu juri lomba, I Made Sudiana mengatakan, lomba mengetik aksara Bali di komputer secara tidak langsung mengajak siswa SMP untuk mengenal aksara Bali. Kegiatan itu diharapkan bisa mendorong para pelajar dan generasi muda bisa terpancing lebih jauh mendalami bahasa, aksara, dan sastra Bali.

“Kami harapkan, melalui penggunaan komputer ini bisa menumbuhkan inovasi dalam mengembangkan atau memanfaatkan aksara Bali menjadi sesuatu yang lebih kreatif,” kata I Made Sudiana di sela-sela acara.

Sudiana mengatakan, dari pengamatan secara keseluruhan, masih ada peserta yang belum memahami teknik mengetik di komputer. Sementara dalam komputer tersebut sebenarnya sudah ada penjelasan cara penggunaan. Selain itu, peserta juga harus paham tentang uger-uger atau tata cara peletakan aksara dalam sebuah kalimat.

“Beberapa bagian perlu diedit. Peserta harus tahu juga tentang uger-uger penulisan aksara Bali. Harus dikuasai,” ujar pria yang kesehariannya bekerja di Balai Bahasa Bali.

Dia menambahkan, program Bali Simbar atau digitalisasi aksara Bali ke dalam komputer sudah dikenalkan sejak tahun 1996 oleh penemunya I Made Suatjana. Program ini terus mengalami perkembangan. Seiring waktu, ada juga yang mengembangkan program serupa.

“Saya rasa perkembangan ini memberi ruang kepada anak-anak untuk kreatif. Karena font aksara Bali sekarang tidak hanya Bali Simbar, tetapi juga font-font yang lain yang dibuat oleh anak muda kreatif di Bali,” kata Sudiana.

Sudiana mengatakan, seiring dengan huruf atau font yang berkembang, kegunaannya pun berkembang. Misalnya, dari penggunaan untuk hal-hal tradisional bisa menjadi produk-produk kreatif.

“Seperti baju bertuliskan huruf Bali, pernak-pernik juga banyak, atau desain grafis yang menarik. Dengan demikian, kebudayaan Bali dikembangkan lebih luas,” ujarnya.


Editor : Maria Christina