Bali Waspadai Masuknya Produk Berisiko Mengandung Virus Flu Babi

Antara ยท Minggu, 12 Juli 2020 - 07:06 WITA
Bali Waspadai Masuknya Produk Berisiko Mengandung Virus Flu Babi
Ilustrasi

DENPASAR, iNews.id - Pemerintah Provinsi Bali mewaspadai masuknya hewan dan produk-produk yang berpotensi membawa risiko virus flu babi. Mereka pun memantapkan koordinasi bersama pihak karantina dan sejumlah pihak terkait.

"Jadi masyarakat tidak perlu khawatir terkait flu babi ini. Pemerintah akan terus memantau dan berupaya agar penyakit ini jangan sampai terjadi di Bali," kata Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali I Ketut Nata Kesuma, di Denpasar, Sabtu (10/7/2020).

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, juga terus melakukan koordinasi dengan Balai Besar Veteriner (BBVET) Denpasar dalam kegiatan surveillance (pengawasan), untuk deteksi dini penyakit tersebut.

"Pengawasan sistematis terhadap virus flu babi adalah kunci sebagai peringatan kemungkinan munculnya pandemi influenza berikutnya. Kita akan siapkan rencana kontingensinya," ujar Nata Kesuma.

Populasi babi di Bali saat ini mencapai lebih dari 689.000 ekor. Jumlah populasi ini masih lebih rendah dibandingkan populasi pada 2016 yang mencapai 800.000 ekor lebih, yang merupakan terbanyak dalam empat tahun yakni dari 2015- 2019.

Selain antisipasi dan kewaspadaan tersebut, Nata Kesuma menjelaskan perbedaan antara African Swine Fever (ASF) dengan flu babi di Tiongkok yang dipicu virus H1N1 tersebut. Keduanya, menurut Nata Kesuma, merupakan penyakit yang berbeda.

Nata Kesuma menuturkan, penyakit flu yang dilaporkan ilmuwan Tiongkok adalah penyakit yang disebabkan virus infulenza H1N1 jalur baru dan berpotensi menular dari hewan ke manusia (zoonosis). Sedangkan kasus penyakit pada babi yang ada di Bali diduga disebabkan virus ASF yang tidak dapat menular ke manusia.

"Kasus penyakit pada babi yang ada di Bali pada saat ini adalah suspect ASF dan bukan flu babi," katanya.

Sejak akhir tahun 2019, kasus suspect ASF dilaporkan di Bali sempat mewabah ke beberapa peternakan di Bali. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali yang menangani fungsi kesehatan hewan terus memantau perkembangan kasus suspect ASF.

"Hasilnya kasus suspect ASF pada babi sudah mengalami penurunan. Selain itu berdasarkan data yang ada, tidak pernah ada laporan kejadian suspect ASF pada manusia . Itu artinya penyakit suspect ASF tidak menular pada manusia," ujarnya.

Pemerintah, lanjut Nata Kesuma secara konsisten terus melakukan pengendalian dan mensosialisasikan tentang suspect ASF kepada masyarakat melalui edaran dan juga sosialisasi secara langsung serta simulasi.


Editor : Nani Suherni