Aset Eks Kepala BPN Kota Denpasar dan Badung Disita, Tanah 250 Hektare Masuk Daftar

dewi umaryati · Sabtu, 15 Agustus 2020 - 10:08:00 WITA
Aset Eks Kepala BPN Kota Denpasar dan Badung Disita, Tanah 250 Hektare Masuk Daftar
Penyidik Kejati Bali menyita rumah mewah seluas 158 meter persegi di Jl Baliku I, Kuta Utara Badung atas nama perempuan berinisial WKP (Foto: iNews/Dewi Umaryati)

DENPASAR, iNews.id – Usai ditetapkan tersangka kasus gratifikasi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) sejak 3 April 2020, penyidik Kejaksaan Tinggi Bali (Kejati) Bali terus menelusuri dan menyita aset milik mantan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, Tri Nugraha. Jumlah aset yang dimiliki Tri Nugraha ini cukup fantastis, tersebar di sejumlah provinsi mulai dari Bali, Jawa Barat, hingga Sumatera.

Sejumlah aset yang telah disita penyidik kejaksaan yaitu kendaraan berupa mobil dan motor berbagai jenis, tanah seluas 250 hektare. Aset tanah itu berupa perkebunan karet di Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Kemudian 11 aset tanah di Bali, yang sembilan di antaranya telah berdiri bangunan. Penyidikan ini membutuhkan waktu lama, karena sebagian besar aset yang disimpan atas nama orang lain.

“Dari penelitian berkas, penyidik menemukan apa yang diperoleh TN (Tri Nugraha) kemudian diatasnamakan orang lain. Apakah ini sengaja sebagai hadiah atau untuk mengelabui penegak hukum, kami akan buktikan di persidangan,” kata Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) Kejati Bali, Luga A Harlianto, Sabtu (15/8/2020).

Salah satu aset diduga milik tersangka Tri yang diatasnamakan orang lain yakni rumah mewah dua lantai di Jalan Baliku I dengan luas tanah 158 meter persegi, serta tanah kosong luas 250 meter persegi di Kecamatan Kuta Utara, Badung. Dua aset ini atas nama perempuan berinisial WKP.

Penyidik masih terus menggali informasi dan meminta kepada masyarakat, yang mengetahui tersangka Tri memiliki aset yang diduga masih disembunyikan, dapat menginformasikan ke Kejati Bali. Menurut Luga, tahap penyitaan ini menjelang akhir pemberkasan, sebelum diserahkan ke jaksa peneliti.

Penyidik belum menahan tersangka Tri, karena yang bersangkutan masih kooperatif dengan bersedia menyerahkan dokumen yang dibutuhkan penyidik. Tri juga dinilai tidak akan mengulangi perbuatannya lagi karena sudah tidak menjabat kepala BPN lagi.

“Selama menjabat sebagai Kepala BPN di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, TN diduga telah menerima gratifikasi lebih dari lima miliar rupiah, sementara TPPU-nya kemungkinan lebih dari itu,” katanya.

Sampai saat ini, penyidik Kejati Bali telah memeriksa sekitar 30 orang, mulai dari pihak swasta, perbankan, kerabat, hingga dari instansi BPN.

Sementara menurut Wakil Kepala Kejati Bali, Asep Maryoto ada sejumlah modus tersangka Tri Nugraha untuk menyembunyikan asetnya, yang hingga kini masih ditelusuri penyidik. Selain aset, Tri Nugraha diduga menyembunyikan sejumlah uang di beberapa rekening bank atas nama orang lain.

“Ada beberapa aset yang tidak atas nama Tri, termasuk rekening. Kami harus menelusuri karena transfernya ke si A dulu baru ke si B baru ke TN. Ada juga yang diminta membuka rekening saja, nanti buku tabungannya diambil,” kata Asep.

Editor : Dewi Umaryati