KLUNGKUNG, iNews.id – Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Yusharto Huntoyungo menegaskan capaian dan penghargaan inovasi daerah tidak boleh dijadikan titik akhir dalam berinovasi. Justru, keberhasilan tersebut harus menjadi pemicu untuk melahirkan inovasi-inovasi baru yang berkelanjutan.
Penegasan itu disampaikan Yusharto saat menjadi narasumber dalam audiensi Pemerintah Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali, yang digelar di Ruang Rapat Praja Mandala Kantor Bupati Klungkung, Selasa (20/1/2026).
Dalam paparannya, Yusharto menekankan inovasi bersifat dinamis dan tidak pernah berhenti. Menurutnya, daerah yang meraih penghargaan inovasi hari ini harus segera memikirkan terobosan berikutnya agar manfaat inovasi terus dirasakan masyarakat.
“Pemenang inovasi hari ini harus mulai berpikir, inovasi selanjutnya apa. Inovasi itu tidak ada matinya,” ujarnya, Selasa (20/1/2026).
Yusharto menjelaskan konsep kurva S inovasi, yakni siklus pertumbuhan inovasi yang pada akhirnya mencapai titik kematangan. Jika pada fase tersebut tidak dibuka peluang inovasi baru, maka inovasi akan stagnan dan kehilangan relevansinya.
“Kalau kurva S dibiarkan berhenti, inovasi akan mati. Karena itu, perlu inovasi lanjutan yang saling terhubung,” katanya.
Dia mencontohkan praktik baik yang dilakukan Kabupaten Banyuwangi yang dinilai berhasil membangun ekosistem inovasi berkelanjutan. Di daerah tersebut, satu inovasi mampu berkembang dan terhubung dengan inovasi lain, sehingga menjadi budaya kerja lintas perangkat daerah, bukan sekadar program sektoral.
Selain itu, Yusharto juga menyinggung inovasi Gempa Genting milik Pemerintah Kota Mojokerto. Inovasi yang awalnya berfokus pada penanganan stunting melalui pengelolaan sampah tersebut, terus berkembang hingga menyentuh aspek peningkatan ekonomi masyarakat.
Editor : Donald Karouw
Artikel Terkait