Senator Made Mangku Pastika Khawatir Mental Warga Bali Terganggu karena Pandemi Covid-19

Antara ยท Kamis, 11 Juni 2020 - 19:16 WITA
Senator Made Mangku Pastika Khawatir Mental Warga Bali Terganggu karena Pandemi Covid-19
Senator Bali Made Mangku Pastika (kanan) (Foto: Antara)

DENPASAR, iNews.id - Anggota DPD dapil Bali, Made Mangku Pastika menyoroti potensi peningkatan gangguan mental yang dialami warga sebagai dampak pandemi Covid-19. Dia mendorong pemerintah cepat mengambil solusi untuk mencegah.

Pastika menyebut sejarah masyarakat Bali yang nekat dan sangat mudah mengambil keputusan yang tidak tepat, seperti misalnya bunuh diri harus jadi pertimbangan.

"Itu yang saya cemaskan, sehingga harus dilakukan upaya untuk mencegahnya," kata Pastika dalam diskusi virtual di Denpasar, Kamis (11/6/2020).

Pastika merinci setidaknya ada tiga tipe stres yang dihadapi masyarakat dalam masa pandemi saat ini. Pertama yakni tipe Single Stress karena kecemasan takut tertular Covid-19, namun untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari sudah tidak ada masalah.

Kedua, double stress yakni mereka tidak hanya takut tertular Covid-19 tetapi masih takut juga kalau keluarganya tidak bisa makan.

Ketiga, triple stress yakni kecemasan karena takut tertular Covid-19 memikirkan susah memenuhi pangan keluarga dan juga memikirkan masa depan yang tidak jelas karena sudah kehilangan pekerjaan.

"Single stress mungkin terjadi pada kalangan ASN dan TNI-Polri karena dari sisi pendapatan tidak masalah. Tetapi bagi kawan-kawan kita yang bekerja di sektor pariwisata atau lainnya dihadapkan pada double atau triple stress, dan bahkan lebih," ucap mantan Gubernur Bali dua periode sejak 2008 hingga 2018.

Pastika berharap masyarakat Bali dapat kembali pada konsep kearifan lokal menyamabraya dan paras-paros dalam membantu di masa pandemi ini. Konsep itu diharapkan bisa menumbuhkan rasa kebersamaan, sehingga mereka yang merasa mengalami kesusahan tidak merasa sendiri.

"Orang Bali itu nekat. Sakit tidak sembuh-sembuh gantung diri, putus pacar tenggelamkan diri ke danau, hutang tidak terbayar karena malu bunuh diri. Itu yang saya sangat khawatir," katanya.

Sementara itu, Direktur Rumah Sakit Jiwa Bali, Dewa Gede Basudewa tidak memungkiri informasi yang membanjiri media sosial turut menjadi pemicu keresahan dan kegalauan masyarakat di tengah pandemi Covid-19.

"Ketika kita takut dan mengeluh, otak akan merasa terancam. Logika berpikir tidak berjalan dengan baik dan muncul rasa khawatir yang berlebihan," ucapnya.

Basudewa membagikan sejumlah tips untuk menjaga kesehatan mental. Yakni tetap menjaga kebugaran tubuh, istirahat yang cukup, hindari terlalu banyak membaca berita Covid-19, serta pilih berita yang membuat senang.

Berikutnya melakukan relaksasi dan berkumpul dengan anggota keluarga untuk bersama-sama melakukan aktivitas yang menyenangkan.


Editor : Reza Yunanto