Ratusan Warga Kena PHK karena Corona, Desa di Bali Ini Sediakan 25 Pekerjaan Alternatif

Antara ยท Kamis, 23 April 2020 - 14:54 WIB
Ratusan Warga Kena PHK karena Corona, Desa di Bali Ini Sediakan 25 Pekerjaan Alternatif
Ilustrasi pekerja terkena PHK karena Covid-19 (Foto: Antara)

BULELENG, iNews.id - Pemerintah Desa Tembok di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali menyiapkan 25 jenis pekerjaan alternatif bagi warga yang terkena PHK. Ada ratusan warga desa tersebut yang kini dirumahkan atau diberhentikan akibat virus corona (Covid-19).

"Pandemi ini menyebabkan banyak warga perantauan asal Desa Tembok yang diberhentikan berkerja dan kembali ke desa, dan kami menyiapkan pekerjaan alternatif bagi mereka ketika mereka sudah kembali ke desa," kata Perbekel Desa Tembok, Dewa Komang Yudi Satra di Singaraja, Kamis (23/4/2020).

Dia menambahkan, program kerja alternatif yang disiapkan untuk warga tersebut berupa program padat karya nonfisik. Program tersebut dari bidang lingkungan hingga ketahanan pangan.

Menurutnya, warga yang berminat agar mendaftarkan diri. Pada tahap awal akan dilakukan pelatihan sesuai bidang pekerjaan yang diminati.

Pekerjaan itu antara lain menjadi petugas kebersihan lingkungan dan pantai, monitoring pengelolaan sampah rumah tangga, pembuatan dan monitoring struktur artificial reef dan deployment di zona rehabilitasi terumbu karang, serta bidang pemeliharaan dan penataan fisik desa.

Selain itu, bidang pertanian disiapkan pekerjaan membersihkan lahan tanam, pengolahan lahan tanam, penanaman dan perawatan tanaman pangan, hortikultura, perawatan pohon mangga, dan produksi garam laut.

Di bidang konveksi seperti menjahit masker, menjahit laundry bag, dan menjahit APD untuk tenaga medis yang menangani COVID-19. Kemudian ada juga di bidang pengolahan pangan, bidang kesehatan, bidang pendataan desa, bidang seni, dan bidang jasa.

Dia menuturkan, program ini mendapat sambutan positif warga. Sebanyak 38 warga telah mendaftar.

"Program ini disiapkan untuk tiga bulan ke depan, dan setiap warga akan mendapatkan kompensasi upah sekitar Rp30.000 hingga Rp70.000 per hari sesuai dengan waktu kerja dan beban kerjanya," katanya.

Dia mengatakan, sejak bertahun-tahun warga Desa Tembok memang dikenal sebagai perantau. Penduduk Desa Tembok berjumlah 2.350 KK atau 7.396 jiwa.

Hampir setengah dari warga Desa Tembok yang berusia produktif merantau ke luar desa untuk bekerja. Paling dekat mereka merantau ke Singaraja, tapi paling jauh bisa sampai ke luar negeri.

"Warga Tembok paling banyak bekerja di Denpasar, Badung dan Gianyar," katanya.

Pekerjaan yang mereka tekuni, sangat beragam. Di antaranya guide turis, spa therapist, pekerja restoran, dan hotel. Ada juga warga bekerja di sentra perajin perak atau menjadi pedagang di pasar.

"Nah, yang paling banyak, sekitar 600 warga Tembok menjadi sopir di Denpasar, Kuta, Gianyar dan sekitarnya. Kebanyakan menjadi sopir taksi, selain banyak juga menjadi sopir freelance," katanya.

Warga Tembok yang menjadi pekerja migran, seperti bekerja di kapal pesiar juga ada. Dari hasil pendataan, sebanyak 16 pekerja migran sudah pulang, dan sekitar 18 orang masih di luar negeri.

"Kami terus melakukan pendataan, dan kami menyebarkan form lewat google, agar warga Tembok di mana pun berada bisa melaporkan dirinya dengan cara mengisi form itu," katanya.


Editor : Reza Yunanto