Pria di Bali Tega Aniaya Balita 2,5 Tahun hingga Patah Tulang

Indira Arri ยท Selasa, 25 Februari 2020 - 12:57 WIB
Pria di Bali Tega Aniaya Balita 2,5 Tahun hingga Patah Tulang
Ari Juniawan, pelaku penganiayaan balita 2,5 tahun di Bali disidang di PN Denpasar, Senin (24/2/2020). (Foto: iNews.id/Indira Arri)

DENPASAR, iNews.id – Ari Juniawan alias Ari (22) duduk di kursi pesakitan Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Bali. Dia didakwa melakukan penganiayaan terhadap KMW, balita berusia 2,5 tahun hingga mengalami patah tulang.

Sidang kasus penganiayaan anak itu berlangsung tertutup di PN Denpasar, Senin (24/2/2020), dengan agenda mendengarkan keterangan empat orang saksi yaitu ibu, bibi, kakek dan nenek korban.

Sebelumnya, JPU telah mendakwa Ari dengan Pasal 76C juncto Pasal 80 ayat 2 UU Perlindungan Anak.

“Terdakwa menempatkan, membiarkan, melalukan, menyuruh melakukan atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak yang mengakibatkan luka berat,” kata jaksa dalam dakwaan.

Informasi yang dihimpun iNews.id, kasus balita dianiaya itu terjadi pada 21 November 2019 di kamar kos ibu korban di Jalan Teuku Umar Barat, Denpasar.

Penganiaayan diawali ketika korban yang selama ini tinggal dengan kakek dan neneknya dijemput oleh ibu kandungnya berinisial KDR alias Iva untuk berjalan-jalan.

Oleh ibunya, korban dibawa berjalan-jalan ditemani oleh bibi korban inisial MPH. Selesai berjalan-jalan, korban tidak dipulangkan ke rumah kakek-neneknya. Dia dibawa ibunya pulang ke kosnya. 

Di kos tersebut, korban dan bibinya tertidur karena lelah. Namun tak lama datang terdakwa Ari yang tak lain adalah pacar ibu korban.

Saat ibu korban mengantar pulang bibi korban, korban ditinggal di kamar kos dan dititipkan kepada terdakwa.

Korban ketakutan ketika melihat terdakwa dan menangis karena tidak menemukan ibunya. Saat itulah terdakwa menganiaya korban yang terus menangis hingga mengalami patah tulang.

Saat ibu korban kembali ke kos, dia mendapati anaknya menangis dan mengalami memar serta kakinya patah hingga dibawa ke UGD RSUP Sanglah.


Editor : Reza Yunanto