Pemilik Vila di Seminyak Bali Aniaya Pegawai Dituntut 10 Bulan Penjara

Aris Wiyanto ยท Jumat, 11 September 2020 - 09:39 WITA
Pemilik Vila di Seminyak Bali Aniaya Pegawai Dituntut 10 Bulan Penjara
Warga negara Irlandia pemilik vila di Seminyak, Bali dituntut 10 bulan penjara karena menganiaya pegawai. (iNews.id/Aris Wiyanto)

DENPASAR, iNews.id - Warga negara Irlandia pemilik vila di Seminyak, Bali menganiaya seorang pegawainya. Pria bernama Ciaran Francis Caufield (53) itu menghadapi tuntutan 10 bulan penjara dalam persidangan.

Persidangan kasus penganiayaan itu digelar di Pengadilan Negeri Denpasar, Kamis (10/9/2020).

Kasus bermula dari dugaan penggelapan uang perusahaan milik terdakwa yang diduga diakukan korban, Ni Made Widyastuti yang bekerja sebagai General Cashier di vila milik terdakwa.

Terdakwa yang kesal karena uang yang digelapkan oleh korban mencapai miliaran rupiah, lalu melakukan penganiayaan. Tak terima dengan penganiayaan tersebut, korban lalu melaporkan penganiayaan yang dialaminya ke polisi hingga berlanjut ke persidangan.

Dalam persidangan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut pria yang telah lama tinggal di Bali itu dengan tuntutan pidana penjara selama 10 bulan.

"Kalau perempuan digituin kan merendahkan martabat perempuan, dan akibatnya membuat sakit perempuan karena dianiaya," ujar JPU Indrati Rindhayani usai persidangan, Kamis (10/9/2020).

Dia tidak menjelaskan bentuk penganiayaan yang dilakukan terdakwa terhadap korban. Kendati demikian, hal yang meringankan terdakwa karena penganiayaan itu dipicu oleh perbuatan korban yang menggelapkan uang perusahaan milik pelaku.

"Yang meringankan itu," ujarnya.

Sementara itu, kuasa hukum terdakwa, Jupiter Gul Lalwani menilai tuntutan JPU kepada kliennya tak berdasar. Menurutnya JPU tak memiliki bukti kuat yang menyatakan kliennya melakukan penganiayaan seperti yang dilaporkan korban.

Selain tak ada visum, JPU juga tidak bisa menghadirkan saksi yang secara nyata melihat penganiayaan tersebut.

"Satu masalah visum. Kedua masalah saksi-saksi yang secara jelas dan nyata tidak melihat penganiayaan itu terjadi," ujarnya.

Dia melanjutkan, perbuatan korban yang memicu kemarahan terdakwa karena jumlah kerugian yang dialami mencapai miliaran rupiah.

"Potensi kerugian Rp7,1 miliar dalam kurun waktu dari 2019. Dia sudah bekerja selama 14 tahun sebagai general cashier," ujarnya.

Menurutnya, kliennya akan melaporkan balik korban ke Polda Bali dengan dugaan penggelapan uang.

Persidangan kasus ini digelar secara tatap muka karena terdakwa tidak ditahan. Persidangan berikutnya yakni memberikan kesempatan terdakwa menyampaikan nota keberatan atas dakwaan JPU.


Editor : Reza Yunanto