KM Bali Permai Sudah Hilang Kontak 2 Bulan, Nasib 19 ABK Belum Diketahui

Chusna Mohammad ยท Kamis, 09 September 2021 - 21:44:00 WITA
KM Bali Permai Sudah Hilang Kontak 2 Bulan, Nasib 19 ABK Belum Diketahui
Kapal Motor (KM) Bali Permai 169 yang membawa 19 ABK dan telah hilang selama dua bulan. (Foto: Istimewa)

DENPASAR, iNews.id - Kapal Motor (KM) Bali Permai 169 sudah dua bulan hilang kontak di Samudra Hindia. Hingga kini, nasib 19 anak buah kapal (ABK) belum diketahui.

"Sampai saat ini kami masih melakukan pemantauan di LKP (last known position). Jika ada informasi akurat keberadaan korban maka secara otomatis operasi SAR kembali kami aktifkan," ujar Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas Bali) Gede Darmada ketika dihubungi, Kamis (9/9/2021).

Dia menjelaskan, PT Putra Jaya Kota selaku operator telah melaporkan hilangnya kapal berukuran panjang 27,5 meter dan lebar 7,65 meter. Laporan diterima Basarnas pada 30 Juli 2021 lalu.

Dalam laporan disebutkan, KM Bali Permai 169 berangkat dari Pelabuhan Benoa Denpasar menuju fishing ground pada 10 Juli 2021. Komunikasi terakhir antara pemilik kapal dengan ABK dilakukan menggunakan radio pada 24 Juli 2021.

Tiga hari berikutnya, 27 Juli 2021 pukul 17.21 WITA, kapal dengan call sign YE 4178  hilang kontak. Kapal sudah tak terdeteksi pada Vessel Monitoring System (VMS) atau tracking pemilik kapal.

Berdasarkan data VMS tersebut, LKP atau lokasi kapal terakhir berada pada koordinat 29° 20.202' S - 100° 55.074' T atau berjarak sekitar 1.471 NM dari Kantor SAR Denpasar dan 791 NM dari Perth, Australia.

Karena masuk teritori Australia, Kantor SAR Denpasar selanjutnya koordinasi dengan Basarnas Command Centre (BCC) Basarnas. Basarnas selanjutnya koordinasi dengan Joint Rescue Coordination Centre (JRCC) Australia, Jumat (30/7/2021).

JRCC Australia merespons informasi tersebut dengan mengerahkan pesawat RSCU440 Challenger dari Perth untuk searching ke LKP. Dua kali searching udara dilakukan, namun hasilnya nihil.

Sementara itu, Rescue 440 juga melemparkan 2 unit Self-locating Datum Marker Buoys (SLIDB) guna validasi perhitungan drift di LKP.

Hasil analisis, tim SAR dari Basarnas maupun dari JRCC Australia, ada dua kemungkinan. Pertama, kapal terbalik dan ABKl meninggalkan kapal dengan rakit atau tenggelam.

Kedua, kapal meninggalkan LKP dengan tenaga mesin saja setelah alat komunikasi rusak total dan GPS tracking tidak berfungsi.

Terkait nasib 19 awak kapal, JRCC Australia bersama dokter ahli di bidang survival memberikan tiha penilaian. Pertama, jika kapal terbalik dan ABK jatuh ke laut menggunakan life jacket maka batas waktu bertahan hidup atau selamat, kemungkinannya sangat kecil sampai hari terakhir operasi SAR pada 2 Agustus 2021.

Kedua, jika kapal terbalik dan ABK menggunakan rakit, kemungkinan selamat sampai matahari tenggelam pada  2 Agustus 2021. Ketiga, jika kapal hanya mengalami kerusakan pada alat komunikasi saja, kemungkinan ABK hidup masih besar mengingat logistik di kapal tersebut lebih dari cukup.

Berdasarkan analisisi dan aspek efektivitas, tim JRCC Australia selanjutnya menghentikan operasi pencarian tersebut. Sementara Basarnas menyebarkan informasi (e-broadcast) terkait hilangnya kapal tersebut kepada semua kapal yang melintas di sekitar LKP untuk mengevakuasi dan melapor jika menemukan korban atau kapal tersebut.

Editor : Donald Karouw

Bagikan Artikel: