Jenazah Pasien Covid-19 di Bali Ditolak Warga saat Akan Dikremasi

Pande Wismaya ยท Senin, 10 Agustus 2020 - 08:43 WITA
Jenazah Pasien Covid-19 di Bali Ditolak Warga saat Akan Dikremasi
Warga menolak jenazah pasien positif Covid-19 yang akan dikremasi di Buleleng, Bali. (iNews.id/Pande Wismaya)

BULELENG, iNews.id - Jenazah pasien positif Covid-19 di Buleleng, Bali ditolak warga saat akan dikremasi. Warga berdalih tidak ada rekomendasi dari Gugus Tugas dan khawatir proses kremasi menyebarkan virus ke warga sekitar.

"Masyarakat setempat mungkin timbul kekhawatiran itu membahayakan bagi lingkungan sekitar jadi kemudian menimbulkan penolakan," kata Sekretaris Gugus Tugas Covid-19 Buleleng, Gede Suyasa dalam keterangan kepada media, Minggu (10/8/2020).

Dia mengatakan jenazah tersebut diputuskan untuk dikremasi atas saran dari dokter forensik yang menyatakan kremasi adalah cara efektif untuk mencegah penularan. Pihak keluarga pun juga meminta jenazah untuk dikremasi.

Kemudian Gugus Tugas memberikan rekomendasi untuk kremasi, karena yayasan penyelenggara kremasi baru bersedia melakukan kremasi bila ada surat rekomendasi dari Gugus Tugas.

Setelah surat rekomendasi lengkap dan petugas berpakaian alat pelindung diri (APD) lengkap datang ke lokasi yayasan penyelenggara kremasi, warga sekitar tetap menolak. Warga beralasan tidak ada pemberitahuan terlebih dahulu.

"Ini yang menyebabkan warga menolak," ujar Suyasa.

Suyasa mengatakan, karena warga menolak maka jenazah tidak jadi dikremasi di yayasan tersebut. Jenazah akhirnya dimakamkan di pemakaman desa setempat setelah Desa Adat memberikan izin.

Suyasa menambahkan pasien yang meninggal tersebut saat datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi lemas akibat penyakit diabetes dengan kadar gula yang tinggi.

Pasien semula dirawat di rumah sakit swasta. Kemudian saat dirujuk ke rumah sakit umum daerah (RSUD) Buleleng dan menjalani swab ternyata hasilnya positif.

"Pasien kemudian dirujuk ke RS Giri Emas hingga akhirnya meninggal dunia," tuturnya.

Terkait kasus kematian di Buleleng ini, Suyasa mengatakan, Gugus Tugas langsung melakukan tracing kontak. Apalagi salah satu anggota keluarga bekerja di pemerintahan dan telah menjalani karantina mandiri.

"Tentu saja ini membutuhkan keterbukaan pihak keluarga, siapa saja yang pernah kontak erat," ujarnya.


Editor : Reza Yunanto