Jaksa Kejati Bali Pelajari Berkas Ujaran Kebencian Jerinx

dewi umaryati ยท Selasa, 25 Agustus 2020 - 23:28:00 WITA
Jaksa Kejati Bali Pelajari Berkas Ujaran Kebencian Jerinx
Penyidik Ditreskrimsus Polda Bali telah melimpahkan kasus ujaran kebencian dengan tersangka Jerinx ke Kejati Bali (foto : dok. iNews.id)

DENPASAR, iNews.id – Berkas tahap pertama kasus ujaran kebencian dengan tersangka I Gede Ari Astina alias Jerinx telah dilimpahkan penyidik Direktorat Reskrimsus Polda Bali ke Kejaksaan Tinggi Bali. Saat ini, seluruh berkas tengah diteliti enam jaksa senior yang telah ditunjuk.

“Iya, untuk berkas tahap pertama telah dilimpahkan. Kita terima 19 Agustus lalu, sebelum libur panjang akhir pekan,” kata Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) Kejati Bali, A. Luga Harlianto, Selasa (25/8/2020).

Menurut Luga, berkas dari penyidik kepolisian masih dipelajari oleh jaksa yang telah ditunjuk Asisten Tindak Pidana Umum (Aspidum). “Mungkin dalam minggu ini jaksa sudah akan memberikan jawaban dari pelimpahan berkas ini, apakah dinyatakan lengkap atau masih ada yang harus diperbaiki atau ditambahkan,” katanya.

Penyidik Polda Bali memang memiliki waktu penahanan selama 20 hari, dan masih dapat diperpanjang jika dibutuhkan. “Misal dari penyidik perlu penambahan masa penahanan, maka mereka (Polda Bali) akan bersurat ke kita (kejaksaan) untuk minta perpanjangan penahanan dan diberikan selama 40 hari,” kata Luga.

Sampai saat ini Luga masih enggan membuka identitas enam jaksa senior yang dinilai cakap menangani kasus ini. “Biarkan mereka bekerja dulu, nanti identitasnya akan kita buka setelah berkasnya dinyatakan p-21 (lengkap),” katanya.

Sebelumnya, Jerinx ditetapkan tersangka oleh Polda Bali setelah menerima laporan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Bali karena diduga telah menyebarkan ujaran kebencian di akun media sosial pribadinya. Jerinx menyebut IDI sebagai kacung WHO dengan menyantumkan emoji babi.

akibatnya, pelaku dijerat pasal 28 ayat 2 juncto pasal 45 ayat 2 dan atau pasal 27 ayat 3 jo 45 ayat 3 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Eleketronik Nomor 19 Tahun 2016 dan atau 310 KUHP dan atau 311 tentang Pencemaran Nama Baik dan terancam hukuman enam tahun penjara.

Editor : Dewi Umaryati