Cegah Monyet Kelaparan, Pengelola Objek Wisata Sangeh Tambah Anggaran Pakan

I Gusti Bagus Alit Sidi W ยท Rabu, 13 Mei 2020 - 10:55 WIB
Cegah Monyet Kelaparan, Pengelola Objek Wisata Sangeh Tambah Anggaran Pakan
Relawan memberi pakan pisang di Objek Wisata Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Badung

BADUNG, iNews.id – Dampak pandemi Covid-19 tak hanya dirasakan masyarakat, tetapi juga satwa yang ada di sejumlah objek wisata di Pulau Dewata. Pengelola Objek Wisata Sangeh harus menyiapkan anggaran lebih untuk pakan ratusan monyet, agar satwa primata ini tidak kelaparan.

Seperti objek wisata Sangeh, yang terletak di Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali. Sejak Pemerintah Provinsi Bali menutup seluruh objek wisata, untuk mencegah penularan virus corona semakin meluas, pengelola harus menambah anggaran tambahan untuk pakan.

Sebelum wabah corona melanda, pengelola memberi pakan ratusan monyet hanya dua kali dalam sehari. Kini saat pandemi, jumlahnya bertambah menjadi tiga kali dalam sehari.

“Saat pandemi ini kita benar-benar kesulitan. Biasanya ada pemasukan tambahan dari uang tiket, atau pengunjung yang memberi makan, sekarang sudah nol, sama sekali tidak ada pemasukan,” kata Pengelola Objek Wisata Sangeh, Made Mohon, Rabu (13/5/2020).

Pada situasi normal, pakan tambahan seperti pisang dan pemberian buah lainnya mengandalkan dari pengunjung. Namun sejak wabah corona, seluruh pakan hewan primata ini disiapkan pengelola.

Menurut Made, penutupan yang telah berlangsung hampir dua bulan ini semakin membuat pengelola kewalahan menanggung biaya pakan ratusan monyet di Objek Wisata Sangeh ini. “Biasanya anggaran yang dihabiskan untuk pakan sekitar Rp20 juta, dan sekarang setiap bulan nambah Rp5 juta,” ucapnya.

Kini pengelola mengetuk hati pemerintah, pihak swasta hingga donatur yang peduli dengan kelangsungan hidup satwa di Objek Wisata Sangeh, untuk meringankan beban pengelola dan desa adat setempat.

“Kita harapkan ada bantuan dari pemerintah, atau para donatur dapat meringankan beban pengelola, dengan memberi pakan monyet, supaya seluruh monyet di sini tidak kelaparan dan terlantar,” ujarnya.

Di tengah pandemi, selain kesulitan pakan monyet, pengelola memilih tak merumahkan atau mem-PHK para pekerjanya melainkan mengurangi jam kerja. Dari 21 pekerja telah dikurangi hanya lima shift yang bekerja bergiliran lima hari sekali.


Editor : Dewi Umaryati