Bos Hotel Mewah di Bali Divonis 2 Tahun Penjara Kasus Pemalsuan Akta

Bona Jaya ยท Rabu, 22 Januari 2020 - 10:40 WIB
Bos Hotel Mewah di Bali Divonis 2 Tahun Penjara Kasus Pemalsuan Akta
Harijanto Karjadi, bos hotel mewah di Bali divonis 2 tahun penjara dalam kasus pemalsuan akta di PN Denpasar. (Foto: iNews.id/Bona Jaya)

DENPASAR, iNews.id – Seorang pemilik hotel mewah di Bali, Harijanto Karjadi divonis dua tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Denpasar. Dia dinyatakan bersalah dalam tindak pidana penggelapan dan pemalsuan akta.

Dalam sidang yang digelar di PN Denpasar, Selasa (21/1/2020), majelis hakim menyatakan Harijanto terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan penggelapan dan pemalsuan dengan memberikan keterangan palsu di akta autentik.

“Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 266 ayat (2) KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP tentang keterangan palsu,” kata ketua majelis hakim Soebandi dalam amar putusan.

Vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan majelis hakim kepada Harijanto lebih ringan satu tahun dari tuntutan jaksa yang menuntut pidana penjara selama tiga tahun.

Atas putusan tersebut, Harijanto melalui kuasa hukumnya Petrus Bala Pattyona menyatakan banding.

“Putusan hakim di luar yang didakwa dan dituntut. Banding atas putusan ini,” kata Petrus usai sidang.

Kasus yang menjerat Harijanto bermula pada 14 November 2011 lalu. Berdasarkan akta perjanjian pemberian kredit tertanggal 28 November 1995 yang ditandatangani Harijanto sebagai Direktur PT Geria Wijaya Prestige (GWP), PT GWP mendapatkan pinjaman kredit dari sindikasi 7 bank sebesar USD 17.000.000.

Untuk pinjaman kredit tersebut, Harijanto menjaminkan tiga sertifikat HGB dan gadai saham milik PT GWP.

Pinjaman kredit itu digunakan Harijanto untuk membangun Hotel Sol Paradiso yang kini telah berganti nama menjadi Hotel Kuta Paradiso di Jalan Plasa Kuta, Badung.

Perjalanan berikutnya, piutang sindikasi bank kepada PT GWP dibeli oleh Tommy Winata sebesar Rp2 miliar.

Namun saat akan menagih piutang, Tommy Winata melihat kejanggalan dalam perjanjian pinjaman kredit ini.

Akibat perbuatan terdakwa, pemilik Artha Graha grup itu mengalami kerugian sebesar USD 20.389.661 atau sekitar Rp285 miliar.

Dalam kasus ini, Tommy Winata juga menggugat perdata Harijanto di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.


Editor : Reza Yunanto