BNN Kota Denpasar Rehabilitasi 76 Pecandu Narkoba Selama 2019

Antara ยท Jumat, 17 Januari 2020 - 20:59 WITA
BNN Kota Denpasar Rehabilitasi 76 Pecandu Narkoba Selama 2019
BNN (dok iNews.id)

DENPASAR, iNews.id – Selama 2019, Badan Narkotika Nasional Kota Denpasar telah merehabilitasi 76 pengguna narkotika. Rehabilitasi dilakukan dengan bantuan sejumlah LSM.

"Jadi kita memberikan layanan rehabilitasi bersama dengan beberapa LSM untuk 76 orang ini, dengan rincian pengguna 53 orang berasal dari Bali dan 23 dari luar Bali," kata Kepala BNNK Denpasar, AKBP Hagyono di Denpasar, Jumat (17/1/2020).

Ia menjelaskan, dari 76 pengguna yang direhabilitasi itu, mayoritas didominasi oleh pengguna sabu-sabu sebanyak 37 orang. Sedangkan pengguna ganja sebanyak 26 orang, dan pengguna narkoba jenis lainnya ada 13 orang.

"Dari 76 orang itu, 74 orang di antaranya sudah selesai melalui rehabilitasi karena pemulihan itu dipertahankan seumur hidup, dan dua lainnya masih menjalani rehabilitasi," katanya menjelaskan.

Ia mengatakan, proses rehabilitasi yang dilakukan pihaknya selama ini tergantung dari assessment. Para pengguna yang ingin rehabilitasi biasanya muncul dari kesadaran sendiri apabila ditemukan tes urine positif.

Jika penggunanya sudah memakai narkotika selama kurang lebih satu tahun, maka masuk ke dalam kategori sedang, lebih dari satu tahun kategori tinggi dan di bawah satu tahun masih kategori pemula.

"Kalau pemula coba-coba perawatannya lebih cepat, persyaratan rawat jalan itu harus ada pelaporan 10 kali dan dipantau kemungkinan pulih lebih besar," katanya.

"60 sampai 70 persen sudah ada yang pulih, sedangkan untuk 30 persen lainnya itu pengurusan domisilinya sulit karena kontak dengan yang bersangkutan itu kan dari luar," ujarnya lagi.

Ia menambahkan, beberapa lembaga rehabilitasi yang bekerja sama dengan BNN Kota Denpasar yaitu Puskesmas II Densel, RSUD Wangaya, Yayasan Anargya, Yakita, dan Yayasan Yakeba.

Selesai rehabilitasi, kata dia, yayasan yang membantu proses pemulihan biasanya juga turut mengarahkan ke kegiatan positif seperti membuat anyaman dan karya seni yang bisa dipasarkan.

"Mana kala dikatakan pulih pengguna yang sudah memiliki keterampilan bisa mendaftar di pekerjaan lain dan tentu dalam pengawasan petugas, karena nanti akan ada agen pemulihan untuk mengawasi kegiatan mereka," katanya.


Editor : Reza Yunanto