DENPASAR, iNews.id – Video yang memperlihatkan adu mulut antara Gubernur Bali, Wayan Koster, dengan petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Denpasar mendadak viral dan menggegerkan media sosial.
Insiden adu argumen tersebut terjadi saat Gubernur Koster menggelar inspeksi mendadak (sidak) pada Kamis (15/10/2026) dini hari sekitar pukul 01.00 WITA. Sidak dilakukan di tengah suasana antrean panjang kendaraan yang mengular di SPBU tersebut.
Penyebab percekcokan berawal dari adanya instruksi kebijakan agar pihak SPBU beroperasi penuh selama 24 jam guna mengurai antrean dan kelangkaan BBM.
Namun, kebijakan tersebut dinilai sangat memberatkan para pekerja lantaran menambah beban kerja dan jam operasional yang berlebih di tengah gempuran antrean warga yang tak kunjung terurai.
Di lokasi kejadian, pegawai SPBU yang kelelahan tak sanggup membendung emosi dan langsung meluapkan protes serta kekesalan mereka secara terbuka di hadapan Gubernur Wayan Koster. Suasana di area SPBU pun sempat memanas saat adu mulut berlangsung disaksikan puluhan warga yang sedang mengantre.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi lebih lanjut dari Pemprov Bali maupun pengelola SPBU terkait tindak lanjut operasional serta solusi keluhan para pekerja SPBU tersebut.
Warga Menginap di SPBU
Ratusan warga Kabupaten Jembrana, Bali, rela menginap di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) meskipun pasokan bahan bakar minyak (BBM) di lokasi tersebut telah habis total.
Kondisi memprihatinkan ini salah satunya terlihat di SPBU 54.822.13 Jalan Sudirman, Kelurahan Pendem, Kecamatan Jembrana, Rabu (14/10/2026) malam.
Ratusan pengendara roda dua maupun roda empat masih mengular memadati bahu jalan nasional meski pengelola SPBU telah memasang papan pemberitahuan bahwa stok BBM dalam keadaan kosong.
Pemandangan serupa juga terjadi di SPBU Jalan Ngurah Rai, Kelurahan Loloan Timur, Kecamatan Jembrana. Warga berjejer rapi di pinggir jalan menunggu kedatangan armada truk tangki pengangkut BBM dari Depo Pertamina Manggis.
Pihak pengelola SPBU sebenarnya telah berkali-kali memberikan imbauan agar warga membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing karena belum ada kepastian mengenai jadwal kedatangan pasokan BBM. Kendati demikian, warga memilih untuk bergeming dan tetap bertahan di lokasi.
Warga Kelurahan Pendem, Putu Winarta, mengungkapkan, banyak pengendara terpaksa tidak bergeser karena tangki kendaraan mereka sudah benar-benar kosong, selain dipicu rasa khawatir tidak akan mendapatkan bagian jika pasokan mendadak datang.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkap penyebab antrean masyarakat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Bali. Gangguan distribusi akibat musim kemarau disebut memperlambat pengiriman BBM, meski stok nasional masih dalam kondisi ideal.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan, ketahanan stok BBM nasional saat ini berada di kisaran 18-20 hari. Namun, kendala pengiriman membuat pasokan ke sejumlah SPBU di Bali terlambat.
"Jadi masalah yang ada ini lebih disebabkan oleh pola distribusi karena musim. Musim, ada kalau yang di darat itu biasanya pakai angkutan sungai, sungainya kering, diantar pakai truk, truknya kan enggak bisa cepat sampainya, berjam-jam dan volumenya tidak banyak," ujar Laode di Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (14/10/2026).
Selain kendala pengiriman, Laode menjelaskan, kondisi gelombang laut yang tinggi turut menyulitkan kapal untuk bersandar. Akibatnya, proses bongkar muat dan pendistribusian BBM ke wilayah tujuan menjadi lebih lambat.
"Lalu yang kedua, ombak. Kalau ombak lagi tinggi, itu kapal tuh walaupun sudah ada di lokasi enggak bisa sandar. Nah, ini memperlambat proses pendistribusian. Tapi begitu sudah sandar, kayak di Bali kemarin, langsung dilaksanakan distribusi 24 jam. Jadi dikejar," tutur dia.
Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus mempercepat pemulihan pasokan BBM di Bali melalui pengaturan pengiriman berdasarkan skala prioritas SPBU serta optimalisasi suplai secara kontinu selama 24 jam. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan BBM masyarakat sesuai kondisi di lapangan.
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menjelaskan penentuan SPBU prioritas merupakan bagian dari pengaturan operasional agar penyaluran BBM lebih terarah.
Editor : Kastolani Marzuki
Artikel Terkait