JAKARTA, iNews.id - Gempa susulan terus mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur sejak gempa dahsyat berkekuatan magnitudo 7,7 pada Sabtu (15/8/2016).
Terkini, gempa berkekuatan magnitudo (M) 5,7 mengguncang wilayah Pantai Barat Laut Manggarai Timur, NTT, Kamis (20/8/2026) pukul 09.47 WIB.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.
"Gempa bumi ini merupakan rangkaian susulan dari gempabumi M7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur pada tanggal 15 Agustus 2026 pukul 04.58.23 WIB," kata Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto dalam keterangan tertulisnya, Kamis (20/8/2026).
Wijayanto mengatakan, gempa memiliki kedalaman 10 kilometer dengan episenter berada di koordinat 8,33° LS dan 120,64° BT, atau di darat sekitar 36 kilometer timur laut Ruteng, Kabupaten Manggarai, NTT.
Menurutnya, berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa tersebut merupakan gempa dangkal akibat aktivitas Flores Back-Arc Thrust. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa memiliki mekanisme pergerakan turun geser (normal-oblique).
"Untuk hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," ujarnya.
BMKG mencatat gempa tersebut dirasakan dengan intensitas V-VI MMI di Kabupaten Manggarai. Pada skala tersebut, getaran dirasakan oleh semua penduduk, kebanyakan terkejut dan berlari keluar, serta dapat menyebabkan kerusakan ringan seperti plester dinding jatuh dan cerobong asap pada pabrik rusak.
Sementara itu, intensitas V MMI dirasakan di Kabupaten Nagekeo dan Kabupaten Ende. Adapun intensitas III-IV MMI dirasakan di Kabupaten Manggarai Barat, Sumba Timur, dan Kabupaten Sikka.
Wijayanto menyebut gempa M5,7 tersebut merupakan bagian dari rangkaian gempa susulan setelah gempa M7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.
"Hingga tanggal 20 Agustus 2026, pukul 08.00.00 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 3.489 aktivitas gempa bumi susulan (aftershock), dengan magnitudo terbesar M6,2," tuturnya.
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
"Masyarakat diminta memastikan informasi terkait gempa bumi hanya bersumber dari kanal resmi BMKG," katanya.
Editor : Kastolani Marzuki
Artikel Terkait